Kamis, 27 Oktober 2011

PNEUMOTHORAKS

ØAdalah terdapatnya udara di dalam rongga pleura. Rongga pleura adalah rongga yang terletak diantara selaput yang melapisi paru-paru dan rongga dada.
Øyang disebabkan oleh  :
ümelalui jalan napas udara sampai ke alveoli yang berbatasan dengan pleura, sehingga udara masuk ke dalam pleura dan terperangkap pada saat ekspirasi.
üudara dapat pula masuk melalui struktur mediastinum, misalnya pada ruptur esofagus oleh karena trauma.
üudara dapat pula masuk melalui dinding thoraks yang terbuka, misalnya ruptur diafragma atau tusukan pada dada oleh karena trauma.
(H. Tabrani Rab, 1996)
Klasifikasi Pneumotoraks
1.PNEUMOTORAKS SPONTAN
Pneumotoraks yang terjadi secara spontan tanpa didahului oleh kecelakaan atau trauma.
  Ada 2 jenis :
a. Pneumotoraks spontan primer
Suatu pneumotoraks yang terjadi karena robeknya suatu kantong udara di dekat pleura viseralis.
b. Pneumotoraks spontan sekunder
Suatu pneumotoraks yang terjadi karena penyakit paru yang mendasarinya (tuberkulosis paru, asma bronkial,pneumonia, dsb)
2. PNEUMOTORAKS TRAUMATIK
Pneumotoraks yang terjadi akibat suatu penetrasi ke dalam rongga pleura karena luka tusuk, luka tembak atau tusukan jarum/kanul.
Ada 2 jenis :
a.Pneumotoraks bukan iatrogenik Pneumotoraks yang terjadi karena jejas kecelakan, misalnya jejas dinding dada terbuka/tertutup, barotrauma.
b. Pneumotoraks traumatik iatrogenik
Pneumotoraks yang terjadi akibat tindakan oleh tenaga medis.
Pneumotoraks traumatik iatrogenik dibedakan menjadi 2 :
vPneumotoraks traumatik iatrogenik aksidental
Pneumotoraks yang terjadi akibat tindakan medis karena kesalahan/komplikasi tindakan tersebut.
vPneumotoraks traumatik iatrogenik artifisial
Pneumotoraks yang sengaja dikerjakandengan cara mengisdi udara ke dalam rongga pleura melalui jarum dengan suatu alat Maxwell box.
ANALGETIK ANTIPIRETIK

Analgesik atau obat – obat penghalang nyeri adalah zat – zat yang dapat mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.
 Sedangkan antipiretik adalah obat yang dapat menurunkan demam (suhu tubuh yang tinggi). Pada umumnya (sekitar 90%) analgesik mempunyai efek antipiretik.
Jadi, analgetik-antipiretik adalah obat yang mengurangi rasa nyeri dan serentak menurunkan suhu tubuh yang tinggi.
Obat analgesik antipiretik serta Obat Anti Inflamasi non Steroid (OAINS) merupakan suatu kelompok obat yang heterogen, bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimia.Walaupun demikian, obat-obat ini ternyata memiliki banyak persamaan dalam efek terapi maupun efek samping. Prototipe obat golongan ini adalah aspirin. Karena itu, banyak golongan dalam obat ini sering disebut obat mirip aspirin (Aspirin-like drugs)
Klasifikasi kimiawi OAINS sebenarnya tidak banyak manfaat kimianya karena ada OAINS dari subgolongan yang sama memiliki sifat yang berbeda.
Sebaliknya ada OAINS yang berbeda subgolongan tapi memiliki sifat yang serupa.
Kemajuan penelitian dalam dasawarsa terakhir ini memberi penjelasan mengapa kelompok heterogen tersebut memiliki kesamaan efek terapi dan efek samping. Ternyata sebagian besar efek terapi dan efek sampingnya berdasarkan atas penghambatan biosintesis prostaglandin (PG).

Mekanisme kerja dan yang berhubungan dengan system biosintesis Prostaglandin ini mulai diperlihatkan secara invitro bahwa dosis rendah aspirin dan indometasin menghambat produksi enzimatik Prostaglandin. Penelitian lanjutan membuktikan bahwa Prostaglandin akan dilepaskan bilamana sel mengalami kerusakan. Walaupun secara invitro OAINS diketahui menghambat obat berbagai reaksi biokimiawi, hubungan dengan efek analgesic, antipiretik dan anti inflamasinya belum jelas. Selain itu, OAINS secara umum tidak menghambat biosintesis leukotrien yang diketahui ikut berperan dalam inflamasi.
Golongan obat ini menghambat enzim siklooksigenase sehingga konversi asam arakhidonat menjadi PGG2 terganggu.Setiap obat
menghambat siklooksigenase dengan cara yang berbeda. Khusus parasetamol, hambatan biosintesis prostaglandin hanya terjadi bila lingkungannya rendah kadar peroksid seperti di hipotalamus. Lokasi inflamasi biasanya mengandung banyak peroksid yang dihasilkan oleh leukosit. Ini menjelaskan mengapa anti-inflamasi parasetamol praktis tidak ada aspirin sendiri menghambat dengan mengasetiliasi gugus aktifserin dan enzim ini.Trombosit sangat rentan terhadap penghambatan ini karena selain tidak mampu mengadakan regenerasi enzim sehingga dosis tunggal aspirin 40 mg sehari telah cukup untuk menghambat siklooksigenase trombosit manusia selama masa hidup trombosit yaitu 8-11 hari.
Nyeri merupakan suatu perasaan pribadi dan ambang toleransi nyeri berbeda-beda bagi setiap orang. Batas nyeri untuk suhu adalah konstan, yakni 44-450C. Mediator nyeri antara lain mengakibatkan reaksi radang dan kejang-kejang yang mengaktivasi reseptor nyeri di ujung-ujung saraf bebas di kulit, mukosa, dan jarigan lainnya. Nociceptor ini terdapat diseluruh jaringan dan organ tubuh, kecuali di system saraf pusat. Dari sini rangsangan disalurkan ke otak melalui jaringan yang hebat dari tajuk-tajuk neuron dengan sinaps yang amat banyak melalui sum-sum tulang belakang, sum-sum tulang lanjutan dan otak tengah. Dari thalamus impuls diteruskan ke pusat nyeri di otak besar, dimana impuls dirasakan sebagai nyeri.
Adapun mediator nyeri yang disebut juga sebagai autakoid antara lain serotonin, histamine, bradikinin, leukotrien dan prostglandin.
Bradikinin merupakan polipeptida (rangkaian asam amino) yang diberikan dari protein plasma.
Ambang nyeri didefinisikan sebagai tingkatan (level) dimana nyeri dirasakan untuk yang pertama kali.
Jadi, intesitas rangsangan yang terendah saat seseorang merasakan nyeri. Untuk setiap orang ambang nyerinya adalah konstan.
Kesadaran akan perasaan sakit terdiri dari dua proses, yakni penerimaan rangsangan sakit di bagian otak besar dan reaksi-reaksi emosional dan individu terhadap perangsang ini. Obat penghalang nyeri (analgetik) mempengaruhi proses pertama dengan mempertinggi ambang kesadaran akan perasaan sakit, sedangkan narkotik menekan reaksi-reaksi psychis yang diakibatkan oleh rangsangan sakit.




Pemberantasan nyeri
Berdasarkan proses terjadinya nyeri, maka rasa nyeri dapat dilawan dengan beberapa cara, yaitu :
1. Merintangi pembentukan rangsangan dalam reseptor-reseptor nyeri perifer, oleh analgetika perifer atau anestetika lokal.
2. Merintangi penyaluran rangsangan nyeri dalam saraf-saraf sensoris, misalnya dengan anestetika lokal
3. Blokade dari pusat nyeri dalam Sistem Saraf Pusat dengan analgetika sentral (narkotika) atau anestetika umum.
Pada pengobatan rasa nyeri dengan analgetika, faktor-faktor psikis turut berperan, misalnya kesabaran individu dan daya menerima nyeri dari si pasien. Secara umum analgetika dibagi dalam dua golongan, yaitu analgetik non-narkotinik atau analgesik non-opioid atau integumental analgesic (misalnya asetosal dan parasetamol) dan analgetika narkotik atau analgesik opioid atau visceral analgesic (misalnya morfin).

Terapi jenis jenis nyeri
Pada pengobatan rasa nyeri dan analgetika, faktor faktor psikis turut memberikan peranan. Jenis – jenis nyeri yaitu :
a.       nyeri ringan
b.      nyeri menahun
c.       nyeri hebat
d.      nyeri hebat yang menahun


Penggolongan Analgetika
 Atas kerja farmakologisnya, analgesic dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu:
A.                Analgetik Perifer (non narkotik)
Terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral. Obat- obat ini dinamakan juga analgetika perifer, karena tidak mempengaruhi Sistem Saraf Pusat, tidak menurunkan kesadaran atau mengakibatkan ketagihan. Semua analgetika perifer juga memiliki kerja antipiretik, yaitu menurunkan suhu badan pada keadaan demam, maka disebut juga analgetik antipiretik. Khasiatnya berdasarkan rangsangannya terhadap pusat pengatur kalor di hipotalamus, yang mengakibatkan vasodilatasi perifer (di kulit) dengan bertambahnya pengeluaran kalor dan disertai keluarnya banyak keringat.
Penggolongan analgetika perifer secara kimiawi adalah sebagai berikut:
1.
Salisilat-salisilat, Na-salisilat, asetosal, salisilamida, dan benirilat
2. Derivat-derivat p-aminofenol:fenasetin dan parasetamol
3. Derivat-derivat pirozolon:antipirin,aminofenazon, dipiron, fenilbutazon dan
turunan-turunannya
4. Derivat-derivat antranilat: glafenin, asam mefenamat, dan asam nifluminat.

Efek-efek samping yang biasanya muncul adalah gangguan-gangguan lambung-usus, kerusakan darah, kerusakan hati, dan ginjal dan juga reaksi-reaksi alergi kulit. Efek-efek samping ini terutama terjadi pada penggunaan lama atau pada dosis besar, maka sebaiknya janganlah menggunakan analgetika ini secara terus-menerus.
contoh obat anlgetik perifer :
ASPIRIN
Komposisi :
Setiap tablet Aspirin" mengandijng 0,5 g asam asetilsalisilat.

Indikasi:
Untuk meringankan rasa sakit, terutama sakit kepala dan pusing, sakit gigi, dan nyeri otot serta menurunkan demam.
Dosis :
Bila tidak ada petunjuk khusus dari dokter
Dewasa           :           1 tablet bila perlu 3 kali sehari
Anak 5 tahun ke atas :           Vi -1 tablet bila perlu 3 kali sehari
Aturan pakai:
Dianjurkan agar tablet diminuijn sesudah makan. Sebaiknya tablet dilarutkan dulu dalam air dan diminum dengan air yang cukup banyak.
Cara kerja obat:
Asam Asetil Salisilat menghanibat pengaruh dan biosintesa daripada zat-zat yang menimbulkan rasa nyeri dan demam (Prostaglandin). Daya kerja antipiretik dan analgetik daripada Aspirin diperkuat oleh pengaruh langsung terhadap susunan saraf pusat.Penderita tukak lambung dan peka terhadap derivat asam salisilat, penderita asma, dan alergi. Penderita yang pernah atau sering mengalami perdarahan di bawah kulit, penderita yangsedang diterapi dengan antikoagulan, penderita hemofilia dan trombositopenia, jartgan digunakan pada penderita varicella cacar air/chicken pox dan gejala flu serta penderitia yang hipersensitif.
Kontraindikasi :
Iritasi lambung, mual, muntah.
Efek samping :
Pemakaian lama dapat terjadi perdarahan lambung, tukak lambung. Dapat terjadi
berkurangnya jumlah trombosit (trombositopenia).



Peringatan dan perhatian :
Bila anda hamil dan menyusui bayi, sebaiknya minta petunjuk dari dokter sebelum memakai Aspirin.Jangan minum Aspirin dalam 3 minggu terakhir dari kehamilan, kecuali atas petunjuk dokter.Minum  ASpirin dekat sebelum kelahiran dapat menyebabkan pendarahan pada ibu dan bayi.Demikian juga bila anda sedang diobati dengan antifoagulansia, methotrexat,antidiabetika oral, obat encok, kortikosteroida dan preparat spironolakton, janganminum Aspirin.Aspirin juga tidak boleh diminum dalam jangka waktu yang lama atau dengandosis yang tinggi.Hati-hati penggunaan pada anak-anak dengan gejala demam terutama flu varicella(cacar air) atau konsultasikan dengan dokter.Bila setelah dua hari memakai obat ini suhu badan tidak menurun atau setelah 5 harinyeri tidak hilang, agar menghubungi dokter terdekat atau unit pelayanan kesehatanterdekat. Penggunaan Aspirin pada penderita yang mengkonsumsi alkohol, dapat meningkatkan resiko perdarahan lambung.Hati-hati penggunaan obat ini pada penderita dengan gangguan fungsi hati, ginjal dan dehidrasi.
B.                 Analgetik Narkotik
Khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat, seperti fraktur dan kanker.
Nyeri pada kanker umumnya diobati menurut suatu skema bertingkat empat, yaitu:
Obat perifer (non Opioid) peroral atau rectal; parasetamol, asetosal.
Obat perifer bersama kodein atau tramadol.
Obat sentral (Opioid) peroral atau rectal.
Obat Opioid parenteral
Guna memperkuat analgetik dapat dikombinasikan dengan co-analgetikum, seperti psikofarmaka (amitriptilin, levopromazin atau prednisone).
Zat-zat ini memiliki daya menghalangi nyeri yang kuat sekali dengan tingkat kerja yang terletak di Sistem Saraf Pusat. Umumnya mengurangi kesadaran (sifat meredakan dan menidurkan) dan menimbulkan perasaan nyaman (euforia). Dapat mengakibatkan toleransi dan kebiasaan (habituasi) serta ketergantungan psikis dan fisik (ketagihan adiksi) dengan gejala-gejala abstinensia bila pengobatan dihentikan. Karena bahaya adiksi ini, maka kebanyakan analgetika sentral seperti narkotika dimasukkan dalam Undang-Undang Narkotika dan penggunaannya diawasi dengan ketat oleh Dirjen POM.
Secara kimiawi, obat-obat ini dapat dibagi dalam beberapa kelompok sebagai berikut :
1. Alkaloid candu alamiah dan sintesis morfin dan kodein, heroin, hidromorfon, hidrokodon, dan dionin.
2. Pengganti-pengganti morfin yang terdiri dari :
a. Petidin dan turunannya, fentanil dan sufentanil
b. Metadon dan turunannya:dekstromoramida, bezitramida, piritramida, dan d-ptopoksifen
c. Fenantren dan turunannya levorfenol termasuk pula pentazosin.
Antagonis-antagonis morfin adalah zat-zat yang dapat melawan efek-efek samping dari analgetik narkotik tanpa mengurangi kerja analgesiknya dan terutama digunakan pada overdosis atau intoksiaksi dengan obat-obat ini. Zat-zat ini sendiri juga berkhasiat sebagai analgetik, tetapi tidak dapat digunakan dalam terapi, karena dia sendiri menimbulkan efek-efek samping yang mirip dengan m
orfin, antara lain depresi pernafasan dan reaksi-reaksi psikotis. Yang sering digunakan adalah nalorfin dan nalokson.
Efek-efek samping dari morfin dan analgetika sentral lainnya pada dosis biasa adalah gangguan-gangguan lambung, usus (mual, muntah, obstipasi), juga efek-efek pusat lainnya seperti kegelisahan, sedasi, rasa kantuk, dan perubahan suasana jiwa dengan euforia. Pada dosis yang lebih tinggi terjadi efek-efek yang lebih berbahaya yaitu depresi pernafasan, tekanan darah turun, dan sirkulasi darah terganggu. Akhirnya dapat terjadi koma dan pernafasan terhenti.

Efek morfin terhadap Sistem Saraf Pusat berupa analgesia dan narkosis. Analgesia oleh morfin dan opioid lain sudah timbul sebelum penderita tidur dan seringkali analgesia terjadi tanpa disertai tidur. Morfin dosis kecil (15-20 mg) menimbulkan euforia pada penderita yang sedang menderita nyeri, sedih dan gelisah. Sebaliknya, dosis yang sama pada orang normal seringkali menimbulkan disforia berupa perasaan kuatir atau takut disertai dengan mual, dan muntah. Morfin juga menimbulkan rasa kantuk, tidak dapat berkonsentrasi, sukar berfikir, apatis, aktivitas motorik berkurang, ketajaman penglihatan berkurang, ektremitas tersa berat, badan terasa panas, muka gatal dan mulut terasa kering, depresi nafas dan miosis. Rasa lapar hilang dan dapat muntah yang tidak selalu disertai rasa mual. Dalam lingkungan yang tenang orang yang diberikan dosis terapi (15-20 mg) morfin akan tertidur cepat dan nyenyak disertai mimpi, nafas lambat dan miosis.
Antara nyeri dan efek analgetik (juga efek depresi nafas) morfin dan opioid lain terdapat antagonisme, artinya nyeri merupakan antagonis faalan bagi efek analgetik dan efek depresi nafas morfin. Bila nyeri sudah dialami beberapa waktu sebelum pemberian morfin, efek analgetik obat ini tidak begitu besar. Sebaliknya bila stimulus nyeri ditimbulkan setelah efek analgetik mencapai maksimum, dosis morfin yang diperlukan untuk meniadakan nyeri itu jauh lebih kecil. Penderita yang sedang mengalami nyeri hebat dan memerlukan mofin dengan dosis besar untuk menghilangkan rasa nyerinya, dapat tahan terhadap depresi nafas morfin. Tetapi bila nyeri itu tiba-tiba hilang, maka kemungkinan besar timbul gejala depresi nafas oleh morfin.

Bahaya Obat Analgetik dan Antipiretik
  Untuk mengatasi demam dan nyeri digunakan obat yang dikenal dengan analgetik dan antipiretik. Obat Analgetik dan Antipiretik  memiliki mekanisme kerja yang sama. Para ahli menggolongkannya dalam satu kelompok obat, karena memiliki fungsi yang sama hanya saja susunanya berbeda. Mekanisme kerja obat analgetik dan antiperetik adalah untuk menghambat kerja enzim siklookcygenasi (COX), Enzim yang berperan dalam mengubah asam arakhidonat menjadi prostaglandin.
Waktu Penggunaan
 Walapun obat analgetik dan antipiretik terdapat dalam satu golongan, namun obat ini mempunya kemampuan atau fungsi yang berbeda. Jika seorang pasien mengalami demam maka yang diberikan adalah kemampuan antipiretik kuat misalnya (parasetamol) sedangkan jika mengalami nyeri, maka jenis obat yang diberikan adalah dengan kemampuan analgetik kuat, misalnya asam mefanemat.
Efek Samping
1.                  Gangguan Saluran Cerna
              Selain menimbulkan demam dan nyeri, ternyata prostaglandin berperan melindungi saluran cerna. Senyawa ini dapat menghambat pengeluaran asam lambung dan mengeluarkan cairan(mukus) sehingga mengakibatkan dinding saluran cerna rentan terluka, karena sifat asam lambung yang bisa merusak
      2.   Gangguan Hati( hepar)
             Obat yang dapat menimbulkan gangguan hepar adalah parasetamol. Untuk penderita gangguan hati disarankan mengganti dengan obat lain.
      
3.   Gangguan Ginjal
             Hambatan pembentukan prostaglandin juga bisa berdampak pada ginjal. Karena prostaglandin berperan homestasis di ginjal. Jika pembentukan terganggu, terjadi gangguan homeostasis.
      4.  Reaksi Alergi
             Penggunaan obat aspirin dapat menimbulkan raksi alergi. Reaksi dapat berupa rinitis vasomotor, asma bronkial hingga mengakibatkan syok.
Saran Penggunaan
·                     Perhatikan zat aktif obat
            Dapat diketahui dari kemasannya. Selanjutnya cari informasi mendalam tentang zat aktif tersebut. Mulai cara penggunaan, efek samping
·                     Waspadai jika sedang menggunakan obat lain
            Jika ragu dengan kemungkinan adanya interaksi obat sebaiknya berkonsultasi dengan dokter, untuk menghindari munculnya masalah
·                     Penderita penyakit maag, gangguan hati dan gangguan ginjal sebaiknya berkonsultasi dengan dokter

·                     Perhatikan Lama Penggunaan
            Obat jenis ini tidak menyembuhkan penyakit, hanya meredakan gejala. Penggunaan ideal sekitar 3 hari jika lebih dan keluhan masih ada segera konsultasi ke dokter 

DAFTAR PUSTAKA
Anief,Moh.2000. Prinsip Umum dan Dasar Farmakologi. Yogyakarta:Universitas Gadjah Mada University Press.
Katzung,B.G.1997. Farmakologi Dasar dan Klinik, ed IV.Jakarta :Penerbit Buku Kedokteran EGC.
 Tjay, Tan Hoan,Drs.,Rahardja,Kirana,Drs.2002. Obat-obat Penting. Jakarta :
Gramedia

Kamis, 14 April 2011

askep anak bronkopneumonia

A.     Definisi
Pneumonia merupakan peradangan akut parenkim paru-paru yang biasanya berasal dari suatu infeksi. (Price, 1995)
Bronkopneumonia digunakan untuk menggambarkan pneumonia yang mempunyai pola penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi didalam bronki dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya. Pada bronkopneumonia terjadi konsolidasi area berbercak. (Smeltzer,2001).
Bronkopneumonia adalah suatu peradangan pada paruparu dan bronkiolus, yang disebabkan oleh bakteri ,misalnya staphylococcus atau streptococcus, virus ( influenza ), jamur candida albican atau aspirasi karena makanan atau benda asing. (Suryanah, 1996)
B.     Etiologi
a.    Bakteri
Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organisme gram posifif seperti : Steptococcus pneumonia, S. aerous, dan  streptococcus pyogenesis. Bakteri gram negatif seperti Haemophilus influenza, klebsiella pneumonia dan P. Aeruginosa.
b.    Virus
Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet. Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia virus.
c.    Jamur
Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung, tanah serta kompos.
d.    Protozoa
Menimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (CPC). Biasanya menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi. (Reeves, 2001)
C.     Klasifikasi
Klasifikasi menurut Zul Dahlan (2001):
a.    Berdasarkan ciri radiologis dan gejala klinis, dibagi atas:
•    Pneumonia tipikal, bercirikan tanda-tanda pneumonia lobaris dengan opasitas lobus atau lobularis.
•    Pneumonia atipikal, ditandai gangguan respirasi yang meningkat lambat dengan gambaran infiltrate paru bilateral yang difus.
b.    Berdasarkan faktor lingkungan
•    Pneumonia komunitas
•    pneumonia nosokomial
•    pneumonia rekurens
•    pneumonia aspirasi
•    pneumonia pada gangguan imun
•    pneumonia hipostatik.
c.    Berdasarkan sindrom klinis
•    Pneumonia bakterial berupa: pneumonia bakterial tipe tipikal yang terutama mengenai parenkim paru dalam bentuk bronkopneumonia dan pneumonia lobar serta pneumonia bakterial tipe campuran atipikal yaitu perjalanan penyakit ringan dan jarang disertai konsolidasi paru.
•    Pneumonia non bakterial, dikenal pneumonia atipikal yang disebabkan mycoplasma, clamydia pneumoniae atau legionella.
D.     Manifestasi Klinis
a.    Kesulitan dan sakit pada saat pernafasan
    Nyeri pleuritik
    Nafas dangkal dan mendengkur
    Takipnea
b.    Bunyi nafas di atas area yang menglami konsolidasi
    Mengecil, kemudian menjadi hilang
    Krekels, ronki, egofoni
c.    Gerakan dada tidak simetris
d.    Menggigil dan demam 38,8  C sampai 41,1C, delirium
e.    Diafoesis
f.    Anoreksia
g.    Malaise
h.    Batuk kental, produktif
    Sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi kemerahan atau berkarat
i.    Gelisah
j.    Sianosis
    Area sirkumoral
    Dasar kuku kebiruan
k.    Masalah-masalah psikososial : disorientasi, ansietas, takut mati

E.     Patofisiologi
Bronchopneumonia selalu didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas yang disebabkan oleh bakteri staphylococcus, Haemophillus influenzae atau karena aspirasi makanan dan minuman.
Dari saluran pernafasan kemudian sebagian kuman tersebut masuk ke saluran pernafasan bagian bawah dan menyebabkan terjadinya infeksi kuman di tempat tersebut, sebagian lagi masuk ke pembuluh darah dan menginfeksi saluran pernafasan dengan ganbaran sebagai berikut:
1.    Infeksi saluran nafas bagian bawah menyebabkan tiga hal, yaitu dilatasi pembuluh darah alveoli, peningkatan suhu, dan edema antara kapiler dan alveoli.
2.    Ekspansi kuman melalui pembuluh darah kemudian masuk ke dalam saluran pencernaan dan menginfeksinya mengakibatkan terjadinya peningkatan flora normal dalam usus, peristaltik meningkat akibat usus mengalami malabsorbsi dan kemudian terjadilah diare yang beresiko terhadap gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
(Soeparman, 1991)

F.     Pathways

G.     Pengkajian Fokus
a.  Riwayat kesehatan masa lalu
-  Kaji riwayat pribadi atau keluarga tentang penyakit paru sebelumnya
-  Kaji riwayat reksi alergi atau sensitivitas terhadap zat/faktor lingkungan
b.  Aktivitas
-  Ketidakmampuan melakukan aktivitas karena sulit bernafas
-  Adanya penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bentuan melakukan aktivitas sehari-hari
-  Tidur dalam posisi duduk tinggi
c.   Pernapasan
-  Dispnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan
-  Napas memburuk ketika klien berbaring telentang di tempat tidur
-  Menggunakan alat bantu pernapasan, misal meninggikan bahu, melebarkan hidung.
-  Adanya bunyi napas mengi
-  Adanya batuk berulang
d.   Sirkulasi
-  Adanya peningkatan tekanan darah
-  Adanya peningkatan frekuensi jantung
-  Warna kulit atau membran mukosa normal/abu-abu/sianosis
e.  Integritas ego
-  Ansietas
-  Ketakutan
-  Peka rangsangan
-  Gelisah
f.  Asupan nutrisi
-  Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan
-  Penurunan berat badan karena anoreksia
g.  Hubungan sosial
-  Keterbatasan mobilitas fisik
-  Susah bicara atau bicara terbata-bata
-  Adanya ketergantungan pada orang lain 
H.  Pemeriksaan Penunjang
a.  Pemeriksaan radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu serangan menunjukkan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis, serta diafragma yang menurun. Akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut:
-  Bila disertai dengan bronkhitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah
-  Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen akan semakin bertambah.
-  Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrat pada paru
-  Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal
-  Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneutoraks, dan pneumoperikardium, maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru.
b.   Pemeriksaan tes kulit
Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma.
c.    Elektrokardiografi
Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru, yaitu:
-  Perubahan aksis jantung, pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clock wise rotation
-  Terdapat tanda-tanda hipertropi otot jantung, yakni terdapatnya RBB (Right Bundle branch Block)
-  Tanda-tanda hipoksemia, yaitu terdapatnya sinus takikardia,
d.    Scanning Paru
Dapat diketahui bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru.
e.    Spirometri
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan napas reversibel. Pemeriksaan spirometri tdak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek pengobatan.
I.     Diagnosa Keperawatan
1.    Bersihan jalan nafas tidak efektif  berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum
2.    Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolus kapiler, gangguan kapasitas pembawa aksigen darah, ganggguan pengiriman oksigen
3.    Pola nafas tidak efektif  berhubungan dengan proses inflamasi dalam alveoli
4.    Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan berlebih, penurunan masukan oral
5.    Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi, anoreksia yang berhubungan dengan toksin bakteri bau dan rasa sputum, distensi abdomen atau gas
6.    Intoleransi aktifitas berhubungan dengan insufisiensi oksigen untuk aktifitas sehari-hari
J.    Intervensi Fokus
1.     Bersihan jalan nafas tidak efektif  berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum
Kriteria Hasil :
    Menunjukkan perilaku mencapai kebersihan jalan nafas
    Menunjukkan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih, tak ada dispnea atau sianosis
Intervensi :
    Mandiri
    Kali frekuensi / kedalaman pernafasan dan gerakan dada
    Auskultasi paru catat area penurunan / tak ada aliran udara dan bunyi nafas tambahan (krakles, mengi)
    Bantu pasien untuk batuk efektif dan nafas dalam
    Penghisapan sesuai indikasi
    Berikan cairan sedikitnya 2500 ml/hari




    Kolaborasi
    Bantu mengawasi efek pengobatan nebulizer dan fisioterapi lain
    Berikan obat sesuai indikasi : mukolitik, ekspetoran, bronkodilator, analgesik
    Berikan cairan tambahan
    Awasi seri sinar X dada, GDA, nadi oksimetri
    Bantu bronkoskopi / torakosintesis bila diindikasikan

2.     Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolus kapiler, gangguan kapasitas pembawa aksigen darah, ganggguan pengiriman oksigen
Kriteria Hasil :
    Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang normal dan tak ada gejala distress pernafasan
    Berpartisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigen
Intervensi :
    Mandiri
    Kaji frekuensi, kedalaman dan kemudahan bernafas
    Observasi warna kulit, membran mukosa dan kuku
    Kaji status mental
    Awasi status jantung / irama
    Awasi suhu tubuh, sesui indikasi. Bantu tindakan kenyamanan untuk menurunkan demam dan menggigil
    Pertahankan istirahat tidur
    Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, nafas dalam dan batuk efektif
    Kaji tingkat ansietas. Dorong menyatakan masalah / perasaan.
    Kolaborasi
    Berikan terapi oksigen dengan benar
    Awasi GDA

3.     Pola nafas tidak efektif  berhubungan dengan proses inflamasi dalam alveoli
Kriteria Hasil :
    Menunjukkan pola pernafasan normal / efektif dengan GDA dalam rentang normal
Intervensi :
    Mandiri
    Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan dan ekspansi dada
    Auskultasi bunyi nafas
    Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi
    Observasi pola batuk dan karakter sekret
    Dorong / bantu pasien dalam nafas dalam dan latihan batuk efektif
    Kolaborasi
    Berikan Oksigen tambahan
    Awasi GDA

4.     Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan berlebih, penurunan masukan oral
Kriteria Hasil :
    Balance cairan seimbang
    Membran mukosa lembab, turgor normal, pengisian kapiler cepat
Intervensi :   
    Mandiri
    Kaji perubahan TTV
    Kaji turgor kulit, kelembaban membran mukosa
    Catat laporan mual / muntah
    Pantau masukan dan keluaran, catat warna, karakter urine
    Hitung keseimbangan cairan
    Asupan cairan minimal 2500 / hari
    Kolaborasi
    Berikan obat sesuai indikasi ; antipiretik, antiametik
    Berikan cairan tambahan IV sesuai keperluan

5.     Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi, anoreksia yang berhubungan dengan toksin bakteri bau dan rasa sputum, distensi abdomen atau gas
Kriteria Hasil :
    Menunjukkan peningkatan nafsu makan
    Berat badan stabil atau meningkat
Intervensi :
    Mandiri
    Indentifikasi faktor yang menimbulkan mual atau muntah
    Berikan wadah tertutup untuk sputum dan buang sesering mungkin
    Auskultasi bunyi usus
    Berikan makan porsi kecil dan sering
    Evaluasi status nutrisi

6.     Intoleransi aktifitas berhubungan dengan insufisiensi oksigen untuk aktifitas sehari-hari
Kriteria Hasil :
    Melaporkan / menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan tak adanya dispnea, kelemahan berlebihan dan TTV dalam rentang normal
Intervensi :
    Mandiri
    Evaluasi respon klien terhadap aktivitas
    Berikan lingkungan terang dan batasi pengunjung
    Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat
    Bantu pasien memilih posisi yang nyaman untuk istirahat / tidur
    Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan